Headline


Kompetensi Guru

Ada beberapa pendapat tentang kompetensi guru. Menurut Barlow (1985: 132), kompetensi guru merupakan kemampuan seorang guru dalam melaksanakan tugasnya secara bertanggung jawab. Suhertian (1994: 35) menyebutkan bahwa kompetensi guru adalah kemampuan melakukan tugas mengajar dan mendidik yang diperoleh melalui pendidikan dan latihan. Lynn dan Nixon (1985: 33) mengatakan, “Competencies may range from recall and understanding of facts and concepts, to advance motor skill, to teaching behaviors and professional values”. Artinya, kompetensi terdiri dari pengalaman dan pemahaman tentang fakta dan konsep, peningkatan keahlian, mengajarkan perilaku dan sikap.

Ada beberapa pendapat tentang kompetensi guru. Menurut Barlow (1985: 132), kompetensi guru merupakan kemampuan seorang guru dalam melaksanakan tugasnya secara bertanggung jawab. Suhertian (1994: 35) menyebutkan bahwa kompetensi guru adalah kemampuan melakukan tugas mengajar dan mendidik yang diperoleh melalui pendidikan dan latihan. Lynn dan Nixon (1985: 33) mengatakan, “Competencies may range from recall and understanding of facts and concepts, to advance motor skill, to teaching behaviors and professional values”. Artinya, kompetensi terdiri dari pengalaman dan pemahaman tentang fakta dan konsep, peningkatan keahlian, mengajarkan perilaku dan sikap.

Uraian tersebut di atas memberikan makna bahwa kompetensi mengandung beberapa aspek yang antara lain: pengetahuan (knowledge), pemahaman (understanding), nilai (value), dan sikap (attitude). Oleh karena itu, ditinjau dari kompetensinya, guru mempunyai peran yang sangat penting dalam menentukan kuantitas dan kualitas pengajaran yang dilaksanakannya. Guru harus memikirkan dan membuat perencanaan secara seksama dalam meningkatkan kesempatan belajar bagi siswanya dan memperbaiki kualitas mengajarnya. Hal itu menuntut perubahan-perubahan dalam pengorganisasian kelas, penggunakan metode mengajar, strategi belajar-mengajar, maupun sikap dan karakteristik guru dalam mengelola proses belajar-mengajar. Guru berperan sebagai pengelola proses belajar-mengajar sekaligus bertindak selaku fasilitator yang berusaha:

a. menciptakan kondisi belajar-mengajar yang efektif,

b. mengembangkan bahan pelajaran dengan baik,

c. meningkatkan kemampuan siswa, dan

d. menguasai tujuan-tujuan pendidikan yang akan dicapai.

Untuk memenuhi hal tersebut di atas, guru dituntut mampu mengelola proses belajar-mengajar yang memberikan rangsangan kepada siswa sehingga ia mau belajar karena memang siswalah subjek utama dalam belajar. Dalam menciptakan kondisi belajar-mengajar yang efektif, guru harus mampu menggunakan metodologi pembelajaran dengan baik dan tepat. Menurut Rasyad (2003: 117) setiap guru dituntut menguasai kompetensi pembelajaran berikut.

a. Mampu menguasai materi pembelajaran yang diajarkan

b. Mampu mengelola program belajar mengajar

c. Mampu mengelola kelas

d. Mampu menggunakan media dan sumber belajar

e. Mampu menggunakan landasan kependidikan

f. Mampu mengelola interaksi belajar mengajar

g. Mampu menilai prestasi peserta didik

h. Mampu mengenali fungsi program bimbingan dan penyuluhan

i. Mampu menyelenggarakan administrasi sekolah

j. Mampu menguasai prinsip-prinsip penelitian

Sementara itu, menurut Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No. 045/U/2002, kompetensi diartikan sebagai seperangkat tindakan cerdas dan penuh tanggung jawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas sesuai dengan pekerjaan tertentu.

Menurut PP RI No. 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 28, pendidik adalah agen pembelajaran yang harus memiliki empat jenis kompetensi, yakni kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional, dan sosial. Dalam konteks itu, maka kompetensi guru dapat diartikan sebagai kebulatan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang diwujudkan dalam bentuk perangkat tindakan cerdas dan penuh tanggung jawab yang dimiliki seseorang guru untuk memangku jabatan guru sebagai profesi. Keempat jenis kompetensi guru yang dipersyaratkan beserta subkompetensi dan indikator esensialnya diuraikan sebagai berikut.

 

Kompetensi Kepribadian

    Kompetensi kepribadian merupakan kemampuan personal yang mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia. Secara rinci setiap elemen kepribadian tersebut dapat dijabarkan menjadi subkompetensi dan indikator esensial sebagai berikut.

    1. Memiliki kepribadian yang mantap dan stabil. Subkompetensi ini memiliki indikator esensial: bertindak sesuai dengan norma hukum; bertindak sesuai dengan norma sosial; bangga sebagai pendidik; dan memeliki konsistensi dalam bertindak sesuai dengan norma.

    2. Memiliki kepribadian yang dewasa. Subkompetensi ini memiliki indikator esensial: menampilkan kemandirian dalam bertindak sebagai pendidik dan memiliki etos kerja sebagai pendidik.

    3. Memiliki kepribadian yang arif. Subkompetensi ini memiliki indikator esensial: menampilkan tindakan yang didasarkan pada kemanfaatan peserta didik, sekolah, dan masyarakat dan menunjukkan keterbukaan dalam berpikir dan bertindak.

    4. Memiliki kepribadian yang berwibawa. Subkompetensi ini memiliki indikator esensial: memiliki perilaku yang berpengaruh positif terhadap peserta didik dan memiliki perilaku yang disegani.

    5. Memiliki akhlak mulia dan dapat menjadi teladan. Subkompetensi ini memiliki indikator esensial: bertindak sesuai dengan norma religius (imtaq, jujur, ikhlas, suka menolong), dan memiliki perilaku yang diteladani peserta didik.

    Kompetensi Pedagogik

     Kompetensi pedagogik merupakan kemampuan yang berkenaan dengan pemahaman peserta didik dan pengelola pembelajaran yang mendidik dan dialogis. Secara substantif kompetensi ini mencakup kemampuan pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. Secara rinci masing-masing elemen kompetensi pedagogik tersebut dapat dijabarkan menjadi subkompetensi dan indikator esensial sebagai berikut.

     

    1. Memahami peserta didik. Subkompetensi ini memiliki indikator esensial: memamahami peserta didik dengan memanfaatkan prinsip-prinsip perkembangan kognitif; memahami peserta didik dengan memanfaatkan prinsip-prinsip kepribadian; dan mengidenti- fikasi bekal-ajar awal peserta didik.

    2. Merancang pembelajaran, termasuk memahami landasan pendidik-an untuk kepentingan pembelajaran. Subkompetensi ini memiliki indikator esensial: menerapkan teori belajar dan pembelajaran; menentukan strategi pembelajaran berdasarkan karakteristik peserta didik, kompetensi yang ingin dicapai, dan materi ajar; serta menyusun rancangan pembelajaran berdasarkan strategi yang dipilih. 

    3. Melaksanakan pembelajaran. Subkompetensi ini memiliki indikator esensial: menata latar (setting) pembelajaran; dan melaksanakan pembelajaran yang kondusif.

    4. Merancang dan melaksanakan evaluasi pembelajaran. Subkompe-tensi ini memiliki indikator esensial: melaksanakan evaluasi (assess-ment) proses dan hasil belajar secara berkesinambungan dengan berbagai metode; menganalisis hasil penilaian proses dan hasil belajar untuk menentukan tingkat ketuntasan belajar (mastery level); dan memanfaatkan hasil penilaian pembelajaran untuk perbaikan kualitas program pembelajaran secara umum. 

    5. Mengembangkan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. Subkompetensi ini memiliki indikator esensial: memfasilitasi peserta didik untuk pengembangan berbagai potensi akademik; dan memfasilitasi peserta didik untuk mengem-bangkan berbagai potensi nonakademik. 

     

      Kompetensi Profesional

    Kompetensi professional merupakan kemampuan yang berkenaan dengan penguasaan materi pembelajaran   bidang studi secara luas dan mendalam yang mencakup penguasaan substansi isi materi kurikulum matapelajaran di sekolah dan substansi keilmuan yang menaungi materi kurikulum tersebut, serta menambah wawasan keilmuan sebagai guru. Secara rinci masing-masing elemen kompe-tensi tersebut memiliki subkompetensi dan indikator esensial sebagai berikut.

    1. Menguasai substansi keilmuan yang terkait dengan bidang studi. Subkompetensi ini memiliki indikator esensial: memahami materi ajar yang ada dalam kurikulum sekolah; memahami struktur, konsep dan metode keilmuan yang menaungi atau kohe-ren dengan materi ajar; memahami hubungan konsep antarmata pelajaran terkait; dan menerapkan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari.

    2. Menguasai langkah-langkah penelitian dan kajian kritis untuk me-nambah wawasan dan memperdalam pengetahuan/materi bidang studi.

     

      Kompetensi Sosial

    Kompetensi sosial berkenaan dengan kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orangtua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar. Kompetensi ini memiliki subkompetensi dengan indikator esensial sebagai berikut.

    1. Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik. Subkompetensi ini memiliki indikator esensial: berkomunikasi secara efektif dengan peserta didik.

    2. Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan sesama pendidik dan tenaga kependidikan.

    3. Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan orang tua/wali peserta didik dan masyarakat sekitar.

    Dengan terpenuhinya kompetensi tersebut, diharapkan proses pembelajaran dapat berlangsung dengan baik. Akhirnya, hasil belajar pun diharapkan baik.

     

    DAFTAR PUSTAKA


    Barlow. (1985). Supervision and teacher: a private coldwar. Berkeley: Mc Cultchan, NY.

     

    Lynn, V.C., & Nixon, J.E.(1985). Physical education: teacher education. New York: John Wiley and Sons, Inc.

     

    Rasyad, A. (2003). Teori belajar dan pembelajaran. Jakarta: Uhamka Press.

     

    Suhertian, P. (1994). Profil pendidikan profesional. Yogyakarta: Andi Offset.

     

     

    LAST_UPDATED2

     

    baner