GURU SEBAGAI MOTIVATOR ULUNG

Penilaian User: / 0
TerburukTerbaik 

alt

Menurut UNESCO, bahwa guru sebagai agen pembawa perubahan yang mampu mendorong pemahaman dan toleransi diharapkan tidak hanya mampu mencerdaskan peserta didik tetapi juga harus mampu mengembangkan kepribadian yang utuh, berakhlak dan berkarakter.

Namun, kadang kita melihat guru yang bersikap acuh tak acuh terhadap siswa. Ia berprinsip yang penting mengajar. Siswa mau memperhatikan atau tidak, ia tidak peduli. Bahkan pernah suatu kali ada siswa yang mau berkonsultasi suatu hal, justru dibentak habis-habisan. Hal ini sangat berbahaya bagi pembelajaran, karena dalam benak siswa akan muncul persepsi yang negatif terhadap guru. Siswa menganggap guru sebagai monster yang menyeramkan. Tiap kali bertemu guru dalam kelas siswa merasa was-was, takut, atau bahkan menghindari guru. Alhasil akan berdampak buruk terhadap hasil belajar siswa.

Adakalanya pada saat proses belajar mengajar beberapa siswa tidak mengikuti dengan serius. Hal ini bisa disebabkan oleh beberapa hal, salah satunya adalah motivasi belajar siswa yang rendah. Guru sebagai komponen penting dalam sistem pendidikan diharapkan mampu menjadi fasilitator, motivator dan dinamisator dalam proses belajar siswa. Di sinilah peran guru sebagai motivator sangat diperlukan. Guru perlu memotivasi siswa dengan berbagai cara, antara lain mengubah strategi pembelajaran, model pembelajaran, ataupun pendekatannya. Jangan sampai guru justru terbawa emosinya sehingga tidak mampu bertindak sebagai motivator, namun justru berbalik menjadi eksekutor dan menvonis siswa sebagai siswa yang malas, bodoh, tidak menghormati guru, dan lain-lain.

Untuk itu perlu kiranya mengkaji kembali konsep pendidikan yang berakar pada budaya asli Indonesia, yaitu ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani. Untuk dapat melaksanakan fungsi pertama, berarti guru haruslah berkepribadian yang utuh dengan kemampuan akademik dan profesional yang andal. Untuk dapat melaksanakan fungsi kedua dibutuhkan guru yang memahami dan menyayangi peserta didik. Sedangkan untuk dapat melaksanakan fungsi yang ketiga, guru harus terus memantau terus proses belajar peserta didik dan memotivasi semangat belajar peserta didiknya. Guru perlu menciptakan suasana belajar yang kondusif, konstruktif, dan harmonis. Sehingga siswa tidak lagi menganggap guru sebagai musuh tetapi sebagai teman, dalam arti tempat untuk berbagi kesulitan dan mencurahkan isi hati.

Pada sekolah tertentu (misal : MAN Sabdodadi) telah dilakukan program pendampingan siswa, yaitu program untuk menyelesaikan permasalahan pribadi siswa melalui seorang guru. Teknisnya seorang guru mendampingi 3 6 siswa yang berkomunikasi dengan memanfaatkan teknologi komunikasi telepon genggam (handphone). Siswa yang mempunyai masalah mengirimkan pesan (sms) kepada guru pendampingnya. Kemudian guru pendamping membalas pesan tersebut. Namun jika permasalahannya sangat kompleks dan krusial, maka perlu dilakukan tatap muka. Jika masalah belum terpecahkan, maka diserahkan kepada guru BP/BK atau psikolog.

Sebagai seorang motivator, guru harus menjadi pendengar yang baik ketika siswa mengemukakan keluhan-keluhannya. Kemudian memberikan alternatif pemecahan yang paling mungkin dilakukan oleh siswa. Dengan cara tersebut diharapkan siswa akan termotivasi untuk belajar lebih giat. Alhasil kondisi pembelajaran di kelas maupun di luar kelas akan berlangsung menyenangkan. Memang seharusnya guru harus mampu menjadi motivator yang ulung.

LAST_UPDATED2

 

baner


 

 

Info Pengunjung






 
  hit counter