H Thoyib Hidayat: Jangan Sampai Menjadi Orang Miskin

Bantul (MAN 2 Bantul) – “Orang harus pandai memanfaatkan kesempatan dalam hidup”, demikian disam...

Pemilos MAN 2 Bantul menjadi Latihan bagi Pemilih Pemula

Bantul (MAN 2 Bantul) – Pemilihan ketua OSIS (Pemilos) sebagai salah satu hajatan demokrasi pesert...

Kembangkan Potensi Diri, Cegah Nikah Dini

MAN 2 BANTUL – Antisipasi semakin meningkatnya angka pernikahan dini di Kabupaten Bantul, madras...

Hadapi Kelulusan, MAN 2 Bantul Jalin Kerjasama dengan Orangtua Siswa

Bantul (MAN 2 Bantul) – Peserta didik kelas XII MAN 2 Bantul akan segera menempuh ujian kelulusan....

BLK Lakukan Uji Keterampilan Peserta Didik MAN 2 Bantul

  Bantul (MAN 2 Bantul) – Selain mengujikan mata pelajaran untuk bekal Ujian Nasional Berbasis Ko...

Kepala MAN 2 Bantul: Santri Bukan Hanya Mereka yang Belajar di Pesantren

Bantul, (MAN 2 Bantul) – “Santri bukan hanya mereka yang belajar di pesantren”, demikian disampaik...

Pembagian Hasil Belajar Peserta Didik MAN 2 Bantul

Bantul (MAN 2 Bantul) – Pemandangan sedikit berbeda terjadi di MAN 2 Bantul. Pada hari ini, Sabtu ...

Kunjungan Studi MAN 2 Bantul di IAIN Salatiga

Bantul (MAN 2 Bantul) – Peserta didik MAN diharapkan nantinya bisa melanjutkan pendidikan ke jenja...

AMT MAN 2 Bantul Membekali Peserta Didik Menyongsong Masa Depan

  Bantul (MAN 2 Bantul) – Ujian Nasional (UN), Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN), d...

MAN 2 Bantul Selenggarakan Pengajian untuk Jalin Silaturahmi

Bantul (MAN 2 Bantul) – Pendidikan seorang anak memerlukan kerjasama semua pihak. Madrasah sebagai...

  • H Thoyib Hidayat: Jangan Sampai Menjadi Orang Miskin

  • Pemilos MAN 2 Bantul menjadi Latihan bagi Pemilih Pemula

  • Kembangkan Potensi Diri, Cegah Nikah Dini

  • Hadapi Kelulusan, MAN 2 Bantul Jalin Kerjasama dengan Orangtua Siswa

  • BLK Lakukan Uji Keterampilan Peserta Didik MAN 2 Bantul

  • Kepala MAN 2 Bantul: Santri Bukan Hanya Mereka yang Belajar di Pesantren

  • Pembagian Hasil Belajar Peserta Didik MAN 2 Bantul

  • Kunjungan Studi MAN 2 Bantul di IAIN Salatiga

  • AMT MAN 2 Bantul Membekali Peserta Didik Menyongsong Masa Depan

  • MAN 2 Bantul Selenggarakan Pengajian untuk Jalin Silaturahmi

NextPrevious


Guru Harus Pandai Membuat Soal-soal Evaluasi

Di setiap tengah atau akhir semester, biasanya para guru diminta untuk membuat soal-soal ulangan tengah semester (UTS) dan Ulangan Akhir Semester (UAS). Soal-soal yang dibuat tentu harus mengacu kepada Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) yang sesuai dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang telah dibuat oleh guru mata pelajaran dalam perangkat pembelajaran.

 

Membuat soal-soal evaluasi yang digunakan sebagai instrument punguji (tes) kemampuan siswa tidaklah mudah. Diperlukan analisis butir soal yang tingkat validitasnya tidak diragukan, sehingga komposisi soal mudah, sedang dan sukar menyebar secara proporsional sesuai dengan materi pelajaran yang diujikan. Soal itu akan dapat menyeleksi secara alamiah, mana siswa yang cerdas, dan mana siswa yang kurang cerdas. Sehingga hasil belajar siswa dapt dibuktikan secara ilmiah.

Sebagai seorang guru, tentu penulis dituntut untuk membuat sebuah soal yang mampu mengisi kompetensi siswa. Guru harus pandai membuat soal evaluasi.Oleh karena itu, keterampilan pembuatan soal-soal harus dikuasai guru. Guru pun harus kreatif dalam membuat soal-soal baru. Bila guru TIK terampil dan kreatif dalam pembuatan soal-soal, maka guru akan kesulitan membuat soal yang berbobot dan benar-benar mampu menguji kemampuan siswa. Akan terlihat siswa yang pandai dan siswa yang lemah dari pengujian soal-soal itu. Guru pun akan segera melakukan tindakan untuk siswa yang lemah itu.

Adanya pembuatan soal dengan sistem multiple chois atau pilihan ganda (PG) sekarang ini membuat guru termudahkan dalam pengoreksiannya. Apalagi bila didukung dengan peralatan canggih berupa scanner pemeriksa soal, maka para guru dapat dengan cepat mengetahui soal-soal mana yang sulit, sedang, dan mudah dari analisis butir soal yang telah diproses secara cepat oleh mesin scanner. Di sinilah terbukti kehebatan teknologi.

Kehebatan teknologi tentu membawa dampak positif dan negatif. Adanya scanner pemeriksa soal membawa dampak positif, dimana lebih cepatnya guru mengetahui hasil pekerjaan siswa. Namun, di sisi lain ada dampak negatif yang harus kita renungkan bersama. Guru menjadi malas dalam membuat soal-soal essay atau uraian sehingga bentuk soal yang dibuat hanya berbentuk soal pilihan ganda (PG) saja. Jarang kita temui di persekolahan kita, para guru memberikan soal essay pada saat UTS dan UAS. Kurangnya soal essay yang dibuat, membuat kemampuan menulis dan bernalar siswa kurang teruji dengan baik.

Guru harus pandai membuat soal evaluasi. Dari sinilah guru akan mendapatkan umpan balik atau feedback dari apa yang telah disampaikannya kepada para peserta didiknya. Guru harus benar-benar teliti dalam pembuatan instrumen evaluasi. Bila tidak, alat ukur atau pemberian nilai dari guru menjadi tidak baik.

Penulis pernah bertanya kepada para anak didik . Lebih mudah mana, soal PG atau soal Essay? Lantas para siswa pun menjawab dengan lantangnya bahwa lebih mudah soal PG daripada soal essay. Ketika penulis tanyakan kenapa soal PG lebih disenangi oleh anak-anak sekarang ini, mereka mengungkapkan alasannya. Soal essay lebih sulit pengerjaannya, sedangkan soal PG lebih mudah dalam pengerjaannya. Bila dalam soal PG anak-anak tak bisa menjawab, maka mereka tinggal hitung kancing saja, dan berharap jawaban yang dipilih benar. Sedangkan bila soalnya berbentuk essay, anak-anak yang tidak bisa menjawab akan mengalami kesulitan dalam menuliskan apa yang harus dituliskannya. Mereka bingung jawaban apa yang harus dituliskan.

Sebenarnya, mutu pendidikan kita akan terlihat dari para guru dalam membuat soal-soal evaluasi itu. Guru harus mampu merencanakan, melaksanakan proses, dan mengevaluasi pembelajarannya. Semakin baik para guru membuat soa-soal evaluasi, maka semakin baik pulalah kualitas pembelajaran dari mata pelajaran yang diampunya. Oleh karena itu, para guru di sekolah seyogyanya telah mampu membuat soal-soal evaluasi pembelajaran dengan baik, dan memasukkan soal-soal terbaiknya dalam bank soal. Semakin banyak soal dibuat, semakin banyak pula para siswa berlatih dalam menjawab soal-soal. Namun, jangan pula dilupakan soal essay atau soal uraian masih diperlukan untuk mengatasi dan menguji kemampuan bernalar siswa dalam bentuk tertulis. Dengan menulis itu akan terlihat kecerdasan siswa dalam menganalis permasalahan.

Percayalah, anda akan merasakannya setelah anda melakukannya!.

sumber : http://edukasi.kompasiana.com/2009/10/14/guru-harus-pandai-membuat-soal-soal-evaluasi/

LAST_UPDATED2

 

baner