HIKMAH DI BALIK MUSIBAH

Penilaian User: / 0
TerburukTerbaik 

Bencana yang melanda wilayah Indonesia seperti meletusnya Gunung Sinabung Sumatra Utara, banjir bandang di Medan, Jakarta, Pati Jawa Tengah disusul muntahnya isi perut Gunung Kelud Kediri Jawa Timur yang debunya berimbas sampai Jawa Barat, memang musibah tak bisa dihindari akhir-akhir ini seakan-akan menjadi bagian dari kehidupan manusia.

Hampir semua manusia yang hidup mengalami musibah diantaranya hilangnya jiwa, rasa takut, harta benda, rusaknya tanam-tanaman, matinya piaraan hewan, dan masih banyak lagi musibah yang dirasakan manusia yang merupakan ujian bagi orang yang beriman kepada Allah SWT, disamping itu musibah juga bisa sebagai teguran, cobaan, siksaan dan seterusnya.

Musibah adalah merupakan sunnatullah yang tak bisa dihindari dan mau tidak musti dialami manusia sebagai hamba Allah SWT, sedikit sekali orang yang bisa mengambil hikmah dari musibah yang dialaminya. Ujian musibah mestinya bisa menguatkan iman juga menyadarkan orang untuk hidup yang berkah tetapi banyak orang yang tetap melakukan tindak kejahatan, melakukan perbuatan dosa, sehingga menjadikan Allah tidak ridla. Hal ini disebabkan banyak orang yang tidak benar mensikapi musibah.

Sesungguhnya datangnya musibah itu membawa hikmah dan pembelajaran bagi orang yang sabar, dan tunduk kepada Allah yang memberi musibah. Diantaranya hikmah musibah adalah :

1. Musibah akan menguatkan jiwa dan mencucikan dari dosa/maksiat

Sebagaimana firman Allah dalam Alquran urat Asy Syura 30 :

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu Maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).

Ayat ini menunjukkan bahwa musibah yang kita alami itu merupakan hukuman karena doa-doa kita. Hal ini dikuatkan sabda Nabi Muhammad SAW dari Abu Hurairah r.a yang artinya : tidak ada penyakit, kesedihan, dan malapetaka yang menimpa kepada seorang mukmin bagaikan duri yang menusuk, kecuali Allah akan memberikan maaf semua doa mukmin itu. (HR. Bukhori)

Hadits lain menyebutkan bahwa:setiap mukmin itu akan mengalami ujian, keluarga, harta benda, dan anak-anaknya, sehingga mereka kembali menghadap Allah dalam keadaan tidak mempunyai dosa.

2. Akan mendapatkan kebahagiaan di akherat yang tidak terkirakan

Kebahagiaan itu adalah pahala karena musibah yang dialami hambanya waktu ada di dunia, sebab pahit getirnya hidup yang dirasakan. Nabi Muhammad bersabda yang artyinya :Dunia itu penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir. Ada di hadits lain disebutkan bahwa:Mati itu merupakan hiburan bagi orang mukmin. (HR. Ibnu Abi ad Dunya dengan sanad Hasan)

3. Musibah murupakan ukuran kesabaran hambanya

Benar apa yang disebutkan dalam syariat bahwa tanpa adanya musibah, tidak Nampak kesabaran sebagai hamba. Dengan adanya kesabaran akan kelihatan kebaikan seseorang, sebaliknya kalau tidak ada kesabaran maka akan hilang wujud kebaikan seseorang. Dari Anas r.a meriwayatkan yang artinya sebenarnya besarnya pahala hamba tergantung besarnya ujian/percobaan. Kalau Allah menguji salah satu kaum, maka Allah akan menguji dengan cobaan. Barang siapa orang yang menerima cobaan dengan ikhlas maka orang itu akan mendapatkan keridhaan Allah, barang siapa yang tidak sabar (bh.Jawa nggresula) maka dia akan menemukan murkanya Allah.

Ridla dan menerima qodha/qodar itu tergantung hatinya manuia. Kalau abar dan yukur ata ketetapannya Allah, maka akan menumbuhkan kebaikan. Roulullah berabda yang artinya :Betul hebat keadaan orang mukmin, ebenarnya emua uruan bia jadi baik. Yaitu kalau menemukan kebahagiaan teru yukur, eperti itu yang menjadi ebab kebaikannya. Dan kalau orang terkena muibah yang menjadikan hidupnya terlantar (rupek/empit red), teru dia tetap abar, maka eperti itu yang menjadikan kebaikannya.

4. Musibah bisa memurnikan ketauhidan

Wahab bin Munabbih berkata, Allah menurunkan ujian/cobaan upaya manuia mau berdoa karena bala itu. Dalam Alquran urat Fuhhilat ayat 51 Allah berfirman :

Dan apabila kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa malapetaka, Maka ia banyak berdoa.

Maksud ayat terebut bahwa Allah telah memberikan nikmat kepada hambanya, seperti kehidupan yang baik, rezki lancar anak-istri sehat, semua kebutuhan terpenuhi, tetapi manusia yang telah menerima semua nikmat itu biasanya lupa kepada yang memberi, berpaling dan menjauhkan diri dari Allah, bahwa seakan-akan nikmat yang yang diperoleh adalah hasil jerih payah mereka, pada hal itu sama sekali tidak benar. Di sisi lain bila mendapatkan malapetaka dia baru ingat kepada Allah, dekat sekali kepada sang Pencipta, dia banyak berdoa agar dipulihkan kembali seperti kebahagiaan yang telah diterimanya.

5. Musibah bisa menghilangkan rasa takabur, sombong dan ujub.

Dikala manusia keadaan selalu baik tanpa mendapat musibah/ujian, biasanya lupa dan melampui batas. Lupa akan kacang dan kulitnya (kesupen sangkan parane dumadi). Tetapi tatkala kena musibah sakit, bau badannya nggak enak, batuk, merasakan sakit sekali, orang itu tidak bisa menolak musibah yang mengancam dirinya. Manusia tidak tau kapan akan mati, tidak tau akan hakikat hidup, juga mudah melupakan. Kalau sudah waktunya mati tidak bisa menolak, tidak bisa bersembunyi. Dengan demikian tidak pantas manusia takabur/sombong/ujub di depan manusia, apalagi dihadapan Allah SWT yang menciptakan manusia.

6. Dengan adanya musibah Allah mengharapkan kebaikan

Nabiyullah Muhammad SAW bersabda bahwa:Barang siapa yang dikehendaki Allah kebaikan, maka Allah akan memberikan cobaan/ujian kepada mereka. (HR. Bukhari).

Seorang mukmin walaupunhidupnya banyak mendapat cobaan/ujian atau musibah, sebenarnya musibah yang datang itu menguatkan/menyehatkan jiwanya. Kenyataan membuktikan bahwa anak pada waktu kecilnya mengalami kesulitan dalam hidupnya, tapi di waktu akhir dewasa mempunyai ketangguhan, kesuksesan dalam hidupnya.

7. Memudahkan Allah memberikan pahala lebih mudah

Orang yang sakit tidak bisa menjalankan ibadah dengan sempurna, bila dibandingkan dengan dikala sehat, walau demikian kekurangsempurnaan dalam beribadah tidak akan mengurangi pahala/ganjaran yang diberikan Allah SWT, asal dia tetap konsisten dan terus mempunyai niat beribadah untuk melaksanakan kebaikan. Sebagimana sabda Rasulullah SAW dalam haditsnya dari Abdullah bin Amr yaitu :Tidak ada seseorang hamba yang terkena musibah terhadap jasadnya, kecuali Allah memberikan perintah kepada malaikat supaya tetap menulis pahalanya. Firman Allah kepada malaikat itu:Tulislah untuk hambaku siang dan malam melaksanakan amal shaleh di waktu kena musibah, sama dengan waktu melaksanakannya, dan tetap ada pada perjanjian dengan Allah. (HR. Imam Ahmad).

Yang dimaksud dengan tetap ada pada perjanjian dengan Allah yaitu pada waktu sehat, sebab umumnya taklif/beban itu ditetapkan dalam keadaan sehat tidak dalam masaqqah atau sempit (keribetan, red).

8. Adanya musibah akan mejadikan syukur nikmat sehat

Orang yang selalu dalam keadaan senang dan sehat tidak akan merasakan beratnya penederitaan, ujian, musibah, dan kesusahan. Sehingga tidak bisa mengukur nikmatnya karunia Allah. Maka dari itu orang yang mengalami musibah akan dapat merasakan mahalnya nikmat dari Allah yang telah diterima selama hidupnya.

Oleh karenanya dikala kena musibah baiknya tetap sabar dan memuji kepada Allah. Sebab barang tentu masih banyak orang lain yang kehidupannya lebih susah, lebih fakir, lebih berat bebannya dari pada yang kita alami. Musibah kita terima dengan ikhlas, sabar dan berserah diri kepada Allah, dzat yang menentukan musibah atau ujian.

alt

 

baner