Topeng Batik Mendunia

Penilaian User: / 0
TerburukTerbaik 

Topeng batik tak hanya dipakai. Tapi menjadi hiasan yang bisa dipajang di mana-mana.

Usaha batik sudah menjadi urat nadi kehidupan keluarga Nanang Hani (28), selama tiga generasi. Kakek dan ayahnya sudah lebih dulu menekuni batik, dirinya sendiri lekat dengan seluk beluk batik semenjak muda.

Meneruskan usaha keluarga di Batik Srengenge, menantang pria berbuat lebih dari sekedar memoles batik di atas kain. Ia berpikir menempatkan batik tidak hanya benda yang bisa dinikmati dalam bentuk kain saja, tetapi hiasan yang seringkali ada di ruang tamu, kamar tidur, atau bahkan lobi kantor dan hotel.

Jadilah ide, topeng batik. Pria kelahiran Solo ini memulai usaha topeng batik sejak 2007. Bersama dua pembuat topeng di sekitar kediamannya, di kawasan Jajar Solo. Nanang membuat topeng dari pulen, sejenis kayu sengon yang sering dipakai dalam acara tradisional maupun pajangan. Modal awalnya sebesar Rp 2 juta, untuk membeli kayu dan upah tenaga.

Dengan keahliannya, Nanang membatik topeng layaknya kain. Pria asli Solo melukis motif di kayu, kemudian menorehkan malam serta merebus topeng hasil inovasinya. Alhasil, 20 topeng batik lukisan tangan berhasil ia ciptakan.

Pemasaran topeng batik yang ia beri nama Topeng Srengenge, ia satukan dengan bengkel dan pemasaran batik kain miliknya, di Jalan Duku No 2 Jajar, Solo. Konsumen yang melihat-lihat batik kain bisa sekaligus melihat karya terbarunya. Topengnya buatannya laris manis. Para turis nasional dan asing tertarik atas kreasi Nanang.

Setahun lebih ia membangun usahanya, hasil karya ayah tiga anak ini menghiasi beberapa Hotel di Jakarta, Solo, Jogjakarta, dan Surabaya. Nanang juga sibuk melayani permintaan ekspor topengnya ke Jepang, Amerika, dan Belanda.

Agar lebih bervariasi, ia tidak hanya membatik di atas topeng. Patung, wayang, tempat tisu, tempat buah, bahkan meja kecil tidak luput dari kreasi batiknya. Motif batik klasik asli Solo dan Jogjakarta paling banyak disukai konsumen. Kalau dulu ia hanya membuat 20 topeng per bulan, saat ini hasil kreasinya mencapai 2.000 tiap bulan.

Harga berkisar antara Rp 35.000 hingga yang menyentuh angka puluhan juta. Walaupun mengaku penghasilan dari batik masih kecil, sekitar 30 juta per bulan, ia percaya usaha topengnya akan terus berkembang.

Saat ini Nanang mempekerjakan lima orang tenaga kerja di batik serta belasan lainnya di usaha batik kain. Nanang terus mencoba menorehkan batik di atas permukaan bahan lainnya. "Saya ingin batik dikenal luas," kata dia. http://kosmo.vivanews.com
 

baner


 

 

Info Pengunjung






 
  hit counter